SENSASI PADA ALAT INDERA MANUSIA
A. PENGERTIAN SENSASI
Sensasi pada dasarnya merupakan tahap awal dalam penerimaan informasi. Sensasi, atau dalam bahasa inggrisnyasensation, berasal dari kata latin, sensatus, yang artinya dianugerahi dengan indra, atau intelek. Sensasi adalah suatu perasaan yang timbul akibat adanya stimulus suatu reseptor. Sensasi yang berlangsung secara terus-menerus disebut sensasi beriringan (after image).
Secara lebih luas, sensasi dapat diartikan sebagai aspek kesadaran yang paling sederhana yang dihasilkan oleh indra kita, seperti temperatur tinggi, warna hijau, rasa nikmatnya sebatang coklat. Sebuah sensasi dipandang sebagai kandungan atau objek kesadaran puncak yang privat dan spontan.
Benyamin B. Wolman (1973, dalam Rakmat, 1994) menyebut sensasi sebagai ”pengalaman elementer yang segera, yang tidak memerlukan penguraian verbal, simbolis, atau konseptual, dan terutama sekali berhubungan dengan kegiatan alat indra”. Apa pun definisi sensasi, fungsi alat indera dalam menerima informasi dari lingkungan sangat penting. Melalui alat indera, manusia dapat memahami kualitas fisik lingkungannya. Lebih dari itu dengan alat inderalah, manusia memperoleh pengetahuan dan semua kemampuan untuk berinteraksi dengan dunianya.
Sensasi sering dibedakan dari persepsi, yang melibatkan penilaian, inferensi, interpretasi, bias, atau prakonseptualisasi, sehingga bisa salah. Sensasi dipandang sebagai pasti, ditentukan secara mendasar, fakta kasar. Menurut beberapa pendapat, sensasi lebih berkonotasi pada sebuah hubungan dengan perasaan (tetapi bukan emosi), sedangkan persepsi lebih berhubungan dengan kognisi. Sensasi sering digunakan secara sinonim dengan kesan inderawi, sense datum, sensum, dan sensibilium. Misalnya meja yang terasa kasar, yang berarti sebuah sensasi dari rabaan terhadap meja.
Jadi proses sensasi dan persepsi itu berbeda. Dalam ungkapan lain sensasi ialah penerimaan stimulus lewat alat indra, sedangkan persepsi adalah menafsirkan stimulus yang telah ada di dalam otak” (Mahmud, 1990:14). Meskipun alat untuk menerima stimulus serupa pada setiap individu, interpretasinya berbeda.
B. TAHAPAN DARI PROSES SENSASI
a. proses fisik : stimulus mengenai alat indera atau reseptor disebut sebagai proses kealaman.
b. proses fisiologis : stimulus yang mengenai alat indera diteruskan oleh syaraf sensoris ke otak.
c. proses psikologis : proses di otak yang menyebabkan organisme mampu menyadari apa yang diterima dengan inderanya.
C. PROSES KERJA SENSASI
Sensasi adalah deteksi energi fisik yang dihasilkan atau dipantulkan oleh objek-objek fisik; terjadi ketika energi dalam lingkungan eksternal atau dalam tubuh merangsang reseptor dalam organ-organ indera.
Sensasi dimulai dari reseptor indera (sense receptor), sel yang terletak di organ indera. Reseptor untuk bau, tekanan, rasa sakit, dan suhu merupakan perpanjangan (dendrit) dari saraf-saraf sensorik. Reseptor untuk penglihatan, pendengaran, dan rasa merupakan sel-sel khusus yang terpisahkan dari saraf sensorik oleh sinapsis.
Ketika reseptor indera mendeteksi sebuah stimulus-cahaya, tekanan mekanis, atau molekul kimia-reseptor ini mengubah energi dari stimulus tersebut menjadi impuls listrik yang berjalan sepanjang saraf menuju otak.
Reseptor indera (pengawas) bertugas meneliti daerah tubuh untuk mencari tanda-tanda aktivitas. Pengawas tidak dapat membuat keputusan sendiri, melainkan harus meneruskan apa yang dipelajari kepada saraf-saraf sensorik (komandan lapangan). Saraf sensorik dalam sistem saraf perifer harus melaporkan pada pusat komando (sel-sel otak). Kemudian pusat komando bertanggung jawab untuk menganalisis laporan tersebut dan memutuskan apa arti informasi tersebut.
Semua saraf sensorik menggunakan bentuk komunikasi yang sama, yaitu impuls saraf. Sistem saraf mengubah pesan-pesan yang ditangkap menjadi kode. Salah satu jenis kode yaitu kode anatomis, yang dikenalkan oleh Johannes Muller (1826) sebagai doktrin energi saraf spesifik (doctrine of specific nerve energy).
Doktrin energi saraf spesifik adalah suatu prinsip yang menyatakan bahwa modalitas sensoris yang berbeda muncul karena sinyal-sinyal yang diterima oleh organ-oran indera merangsang jalan saraf yang berbeda-beda yang mengarah pada area-area yang berada di
otak. Seperti: sinyal dari mata menyebabkan impuls berjalan sepanjang saraf optik menuju ke korteks visual. Sinyal dari telinga menyebabkan impuls berjalan dari saraf auditoris menuju korteks auditoris. Gelombang cahaya dan suara menghasilkan sensasi berbeda karena adanya perbedaan anatomi ini.
D. CIRI SENSASI
a. Modalitas (modalitas dari sensasi adalah panca indera).
b. Kualitas atau mutu
c. Adaptasitas
d. Intensivitas atau kekuatan
e. Durasitas atau lama
E. SYARAT TERJADINYA SENSASI
a. Adanya objek yang diamati atau kekuatan stimulus. Objek menimbulkan stimulus yang mengenai indera (reseptor) sehingga terjadi sensasi. Untuk bisa diterima oleh indera diperlukan kekuatan stimulus yang disebut sebagai ambang mutlak (absolute threshold).
b. Kepastian alat indera (reseptor) yang cukup baik serta syaraf (sensoris) yang baik sebagai penerus kepada pusat otak (kesadaran) untuk menghasilkan respon.
c. Pengalaman dan lingkungan budaya. Pengalaman dan budaya mempengaruhi kapasitas alat indera yang mempengaruhi sensasi.
F. MENGUKUR BENDA
1. Spectrum Electromagnet, sistem visual kita hanya mendeteksi sebagian kecil dari energi elektromagnetis yang ada di sekitar kita.
2. Teori Sinyal-Deteksi (signal-detection theory) yaitu teori psikofisika yang membagi deteksi sinyal sensorik menjadi proses sensorik dan proses pengambilan keputusan. Menurut teori ini respon seorang pengamat dalam tugas mendeteksi sinyal dapat dibagi menjadi proses penginderaan yang tergantung pada intensitas stimulus dan proses keputusan yang dipengaruhi oleh kecenderungan pada respon pengamat.
G. ADAPTASI SENSORIK
•Adaptasi sensorik (sensory adaptation) adalah pengurangan atau menghilangnya kepekaan sensorik ketika stimulus tidak berubah atau terjadi berulang-ulang.
•Deprivasi sensorik (sensory deprivation) merupakan ketiadaan tingkat stimulasi sensoris yang normal
•Atensi selektif (selective attention) adalah pemusatan perhatian pada aspek-aspek lingkungan yang terpilih dan pengabaian aspek lainnya.
•Kebutaan inatensional (inattentional blindness) adalah kegagalan untuk secara sadar memprsepsikan sesuatu yang sedang kita lihat karena kita tidak memperhatika objek tersebut. Seperti pepatah “we look, but do not see” (Mack, 2003).
H. UJI SENSORIK DAN MOTORIK
Informasi dihantarkan melalui sistem saraf dalam bentuk implus saraf. Atau potensi aksi, suatu peristiwa yang bersifat, ya atau tidak sama sekali suatu potensial aksi yang dipacu oleh cahaya yang mengenai mata sama seperti potensial aksi yang dipacu oleh udara yang bergetar didalam telinga, kemampuan untuk membedakan banyak jenis stimulus, seperti penglihatan atau suara, bergantung pada bagian otak yang menerima sinyal tersebut, masalahnya adalah kemana implus itu pergi, bukan apa yang memicunya.
Potensial aksi yang mencapai otak melalui neuron sensori disebut sensasi. Pada saat otak mengetahui adanya sensasi, otak menterjemahkan, yang memberikan kita persepsi akan stimulus tersebut. Persepsi seperti warna, bau, suara, dan cita rasa, merupakan konstruksi bentuk otak dan bukan dari yang lainnya, dengan demikian, jika sebuah pohon tumbang dan tidak ada yang mendengarnya, apakah ada suara ? jatuhnya pohon itu tentunya menghasilkan gelombang tekanan di udara, akan tetapi jika suara didefinisikan sebagai persepsi , maka tidak ada suara kecuali reseptor sensori mendeteksi gelombang dan otak hewan mempersepsikannya. (Campbell, 2004).
Reseptor sensori mentransduksikan energi stimulus dan menghantarkan sinyal ke sistem saraf. Semua stimulus mempersentasikan bentuk-bentuk energi dan fungsi umum sel-sel reseptor adalah merubah energi stimulus menjadi perubahan dalam potensial membran dan kemudian menghantarkan sinyal ke sistem syaraf. Tugas ini terdiri atas empat fungsi, tranduksi sensori, amplifikasi, transmisi dan integrasi.
I. PROSES SENSORI
Indra mempunyai sel-sel reseptor khusus untuk mengenali perubahan lingkungan. Indra yang kita kenal. Kelima indra tersebut berfungsi untuk mengenali perubahan lingkungan luar, oleh karenanya disebut eksoreseptor.
Reseptor yang berfungsi untuk mengenali lingkungan dalam, misalnya nyeri, kadar oksigen atau karbon dioksida, kadar glukosa dan sebagainya, disebut interoreseptor.
Sel-sel interoreseptor misalnya terdapat pada sel otot, tendon, ligamentum, sendi, dinding saluran pencernaan, dinding pembuluh darah, dan lain sebagainya. Akan tetapi, sesungguhnya interoreseptor terdapat di seluruh tubuh manusia. Interoreseptor yang membantu koordinasi dalam sikap tubuh disebut kinestesis.
1. INDERA PENGLIHAT (Mata)
Mata mempunyai reseptor khusus untuk mengenali perubahan sinar dan warna. Sesungguhnya yang disebut mata bukanlah hanya bola mata, tetapi termasuk otot-otot penggerak bola mata, kotak mata (rongga tempat mata berada), kelopak, dan bulu mata.
Gbr. Struktur bola mata dilihat dari samping
•Bola Mata
Bola mata mempunyai 3 lapis dinding yang mengelilingi rongga bola mata. Ketiga lapis dinding ini dari luar ke dalam adalah sebagai berikut.
a. Sklera
Sklera merupakan jaringan ikat dengan serat yang kuat; berwarna putih buram (tidak tembus cahaya), kecuali di bagian depan bersifat transparan, disebut kornea. Konjungtiva adalah lapisan transparan yang melapisi kornea dan kelopak mata. Lapisan ini berfungsi melindungi bola mata dari gangguan.
b. Koroid
Koroid berwarna coklat kehitaman sampai hitam; merupakan lapisan yang berisi banyak pembuluh darah yang memberi nutrisi dan oksigen terutama untuk retina. Warna gelap pada koroid berfungsi untuk mencegah refleksi (pemantulan sinar). Di bagian depan, koroid membentuk badan siliaris yang berlanjut ke depan membentuk iris yang berwarna. Di bagian depan iris bercelah membentuk pupil (anak mata). Melalui pupil sinar masuk. Iris berfungsi sebagai diafragma, yaitu pengontrol ukuran pupil untuk mengatur sinar yang masuk. Badan siliaris membentuk ligamentum yang berfungsi mengikat lensa mata. Kontraksi dan relaksasi dari otot badan siliaris akan mengatur cembung pipihnya lensa.
c. Retina
Lapisan ini peka terhadap sinar. Pada seluruh bagian retina berhubungan dengan badan sel-sel saraf yang serabutnya membentuk urat saraf optik yang memanjang sampai ke otak. Bagian yang dilewati urat saraf optik tidak peka terhadap sinar dan daerah ini disebut bintik buta.
Adanya lensa dan ligamentum pengikatnya menyebabkan rongga bola mata terbagi dua, yaitu bagian depan terletak di depan lensa berisi carian yang disebut aqueous humor dan bagian belakang terletak di belakang lensa berisi vitreous humor. Kedua cairan tersebut berfungsi menjaga lensa agar selalu dalam bentuk yang benar.
Kotak mata pada tengkorak berfungsi melindungi bola mata dari kerusakan. Selaput transparan yang melapisi kornea dan bagian dalam kelopak mata disebut konjungtiva. Selaput ini peka terhadap iritasi. Konjungtiva penuh dengan pembuluh darah dan serabut saraf. Radang konjungtiva disebut konjungtivitis.
Untuk mencegah kekeringan, konjungtiva dibasahi dengan cairan yang keluar dari kelenjar air mata (kelenjar lakrimal) yang terdapat di bawah alis.
Air mata mengandung lendir, garam, dan antiseptik dalam jumlah kecil. Air mata berfungsi sebagai alat pelumas dan pencegah masuknya mikroorganisme ke dalam mata.
•Fungsi Mata
Sinar yang masuk ke mata sebelum sampai di retina mengalami pembiasan lima
kali yaitu waktu melalui konjungtiva, kornea, aqueus humor, lensa, dan vitreous humor. Pembiasan terbesar terjadi di kornea. Bagi mata normal, bayang-bayang benda akan jatuh pada bintik kuning, yaitu bagian yang paling peka terhadap sinar.
Ada dua macam sel reseptor pada retina, yaitu sel kerucut (sel konus) dan sel batang (sel basilus). Sel konus berisi pigmen lembayung dan sel batang berisi pigmen ungu. Kedua macam pigmen akan terurai bila terkena sinar, terutama pigmen ungu yang terdapat pada sel batang. Oleh karena itu, pigmen pada sel basilus berfungsi untuk situasi kurang terang, sedangkan pigmen dari sel konus berfungsi lebih pada suasana terang yaitu untuk membedakan warna, makin ke tengah maka jumlah sel batang makin berkurang sehingga di daerah bintik kuning hanya ada sel konus saja.
Pigmen ungu yang terdapat pada sel basilus disebut rodopsin, yaitu suatu senyawa protein dan vitamin A. Apabila terkena sinar, misalnya sinar matahari, maka rodopsin akan terurai menjadi protein dan vitamin A. Pembentukan kembali pigmen terjadi dalam keadaan gelap. Untuk pembentukan kembali memerlukan waktu yang disebut adaptasi gelap (disebut juga adaptasi rodopsin). Pada waktu adaptasi, mata sulit untuk melihat.
Pigmen lembayung dari sel konus merupakan senyawa iodopsin yang merupakan gabungan antara retinin dan opsin. Ada tiga macam sel konus, yaitu sel yang peka terhadap warna merah, hijau, dan biru. Dengan ketiga macam sel konus tersebut mata dapat menangkap spektrum warna. Kerusakan salah satu sel konus akan menyebabkan buta warna.
Jarak terdekat yang dapat dilihat dengan jelas disebut titik dekat (punctum proximum). Jarak terjauh saat benda tampak jelas tanpa kontraksi disebut titik jauh (punctum remotum). Jika kita sangat dekat dengan obyek maka cahaya yang masuk ke mata tampak seperti kerucut, sedangkan jika kita sangat jauh dari obyek, maka sudut kerucut cahaya yang masuk sangat kecil sehingga sinar tampak paralel. Lihat Gambar 11.18. Baik sinar dari obyek yang jauh maupun yang dekat harus direfraksikan (dibiaskan) untuk menghasilkan titik yang tajam pada retina agar obyek terlihat jelas. Pembiasan cahaya untuk menghasilkan penglihatan yang jelas disebut pemfokusan.
Cara kerja mata manusia pada dasarnya sama dengan cara kerja kamera, kecuali cara mengubah fokus lensa. Persamaan dan perbedaannya disajikan pada Tabel.
2. INDERA PENDENGAR (TELINGA)
Sensasi auditori didapatkan dari indera pendengaran yaitu telinga. Pendengaran adalah kemampuan untuk mengenali suara pada manusia dan binatang bertulang belakang, hal ini dilakukan terutama oleh sistem pendengaran yang terdiri dari telinga, syaraf-syaraf, dan otak. Melalui indera pendengaran ini kita bisa membedakan suarasuara yang keras, lemah dan lembut dari suatu dialog percakapan, atau mendengarkan nada-nada musik yang indah. Indra yang digunakan untuk mendengarkan adalah telinga yang akan terstimulasi oleh adanya gelombang suara.
Telinga mempunyai reseptor khusus untuk mengenali getaran bunyi dan untuk keseimbangan. Ada tiga bagian utama dari telinga manusia, yaitu bagian telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam.
Telinga luar berfungsi sebagai pengumpul suara yang kemudian di salurkan ke telingat tengah melalui lubang auditori.Telinga luar berfungsi menangkap getaran bunyi, dan telinga tengah meneruskan getaran dari telinga luar ke telinga dalam. Reseptor yang ada pada telinga dalam akan menerima rarigsang bunyi dan mengirimkannya berupa impuls ke otak untuk diolah.
Gelombang suara adalah suatu energi yang dihasilkan dari pemampatan dan perengangan molekul yang dihasilkan oleh sumber bunyi. Ketika penala bergetar ketika dia bergerak ke satu arah, maka dia akan menyebabkan pemempatan molekul udara yang searah, lalu ketika penala bergerak ke arah sebaliknya, hal ini akan menyebabkan perenggangan molekul udara di sekitarnya. Hal ini berlangsung terus menerus, sehingga menghasilkan gelombang udara yang terdiri dari pemampatan dan perenggangan molekul udara.
Di telinga tengah ini terdapat gendang telinga yang fungsinya untuk mengubah suara menjadi getaran yang kemudian disalurkan oleh tulang martil, landasan dan sanggurdi ke telinga bagian dalam. Telinga dalam terdiri dari koklea, saluran separuh bulat dan saraf auditori yaitu saraf pendengaran yang menghantarkan getaran atau pesan pendengaran dari koklea ke otak untuk ditafsirkan. Di otak pula, terdapat pusat pendengaran yang akan memproses getaran-getaran yang sampai dan getaran ini akan ditafsirkan sebagai pendengaran. Disebabkan hal inilah, kita dapat menikmati sensasi pendengaran.
•Susunan Telinga
Telinga tersusun atas tiga bagian yaitu telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam.
1. Telinga luar yang terdiri dari
a. Daun telinga (pinna)
b. Liang telinga (meatus akustikus eksternus)
c. Gendang telinga (membran timpani)
2. Telinga tengah, yang terdiri dari tulang-tulang pendengaran (MIS)
a. Maleus
b. Inkus
c. Stapes
3. Telinga dalam yang terdiri dari koklea yang berisi organ corti tempat terdapatnya saraf pendengaran
Gbr. Struktur telinga pada manusia
•Cara kerja indra pendengaran
Gelombang bunyi yang masuk ke dalam telinga luar menggetarkan gendang telinga. Getaran ini akan diteruskan oleh ketiga tulang dengar ke jendela oval. Getaran Struktur koklea pada jendela oval diteruskan ke cairan limfa yang ada di dalam saluran vestibulum. Getaran cairan tadi akan menggerakkan membran Reissmer dan menggetarkan cairan
limfa dalam saluran tengah. Perpindahan getaran cairan limfa di dalam saluran tengah menggerakkan membran basher yang dengan sendirinya akan menggetarkan cairan dalam saluran timpani. Perpindahan ini menyebabkan melebarnya membran pada jendela bundar.
Getaran dengan frekuensi tertentu akan menggetarkan selaput-selaput
basiler, yang akan menggerakkan sel-sel rambut ke atas dan ke bawah.
Ketika rambut-rambut sel menyentuh membran tektorial, terjadilah rangsangan (impuls). Getaran membran tektorial dan membran basiler akan menekan sel sensori pada organ Korti dan kemudian menghasilkan impuls yang akan dikirim ke pusat pendengar di dalam otak melalui saraf pendengaran.
•Susunan dan Cara Kerja Alat Keseimbangan
Bagian dari alat vestibulum atau alat keseimbangan berupa tiga saluran setengah lingkaran yang dilengkapi dengan organ ampula (kristal) dan organ keseimbangan yang ada di dalam utrikulus clan sakulus.
Alat keseimbangan di dalam utrikulus dan sakulus terdiri dari sekelompok sel saraf yang ujungnya berupa rambut bebas yang melekat pada otolith, yaitu butiran natrium karbonat. Posisi kepala mengakibatkan desakan otolith pada rambut yang menimbulkan impuls yang akan dikirim ke otak.
•Hal-hal yang mempengaruhi pendengaran:
1. Intensitas dan desibel.
Intensitas menunjuk ke seberapa besar perubahan tekanan dalam gelombang dan tingkat intensitas dihubungkan ke sensasi kerasnya suara. Satuan yang digunakan untuk mengukur intensitas tekanan suara adalah decibel (dB).http://psikologi.or.id
2. Frekuensi
Frekuensi suara adalah jumlah perubahan lingkaran tekanan yang terjadi dalam 1 detik. Satu lingkaran per detik disebut satu Hertz (Hz). Indera pendengaran manusia dapat membedakan berbagai kualitas nada (warna nada) dan keras lemahnya suara nada.
3. Amplitudo
Amplitudo yaitu keras lemahnya bunyi. Amplitudo suatu bunyi sangat tergantung dari besarnya energi. Suatu nada dapat memiliki frekuensi yang sama tetapi berbeda amplitudonya.
•Cara kerja indra pendengaran
Gelombang bunyi yang masuk ke dalam telinga luar menggetarkan gendang telinga. Getaran ini akan diteruskan oleh ketiga tulang dengar ke jendela oval. Getaran struktur koklea pada jendela oval diteruskan ke cairan limfa yang ada di dalam saluran vestibulum. Getaran cairan tadi akan menggerakkan membran Reissmer dan menggetarkan cairan limfa dalam saluran tengah.
Perpindahan getaran cairan limfa di dalam saluran tengah menggerakkan membran basiler yang dengan sendirinya akan menggetarkan cairan dalam saluran timpani. Perpindahan ini menyebabkan melebarnya membran pada jendela bundar. Getaran dengan frekuensi tertentu akan menggetarkan selaput-selaput basiler, yang akan menggerakkan sel-sel rambut ke atas dan ke bawah. Ketika rambut-rambut sel menyentuh membran tektorial, terjadilah rangsangan (impuls). Getaran membran tektorial dan membran basiler akan menekan sel sensori pada organ Korti dan kemudian menghasilkan impuls yang akan dikirim ke pusat pendengar di dalam.
3. INDERA PERABA (Kulit)
Indra peraba merupakan indera yang sederhana. Kepekaan peraba pada manusia sangat besar, terutama di ujung jari dan bibir.
Reseptor peraba terdapat pada kulit jari, bibir, dan relatif jarang pada kulit tubuh. Pada bibir, ujung jari, ujung lidah dan alat kelamin terdapat banyak sekali reseptor dengan serabut saraf sensorik. Dengan demikian, ujung jari dapat membedakan dua titik rangsangan bahkan bila jarak kedua titik 1 mm. Hal tersebut disebabkan karena masing-masing titk rangsangan akan mengenai reseptor pada neuron yang berbeda sehingga otak dapat membedakan dua titik rangsang tersebut.
•Klasifikasi Reseptor
Berdasarkan sumber rangsangan :
1. Ekteroreseptor, terletak pada permukaan tubuh dan berespons terhadap rangsangan eksterna atau luar.
2. Proprioreseptor, berespons terhadap perubahan posisi dan pergerakan terutama berhubungan dengan sistem muskuloskeletal.
3. Interoreseptor, terletak pada visera/ alat dalam dan pembuluh darah.
Berdasarkan morfologi :
1. Badan terakhir yang bebas/ terbuka (tanpa kapsul) yang tak berhubungan dengan tipe sel lainnya.
2. Badan akhir yang berkapsul (korpuskular) yang mengandung unsur bukan saraf di samping saraf badan akhir saraf.
•Kulit terdiri dari 3 lapisan :
1. Epidermis, yaitu bagian terluar dari lapisan kulit.
2. Dermis, terdapat kelenjar dan saluran keringat bulbus rambut, volicall rambut, akar rambut, dan kelenjar sebaseus.
3. Sebcuta neaus, pembulu darah, syaraf cutaneus dan jaringan otot.
Reseptor kulit dan hamtaran implus terletak di syaraf perifer. Saraf sensoris yang berada pada kulit merupakan saraf telanjang, artinya saraf yang tidak bermielin.
Pada epidermis tidak terdapat pembuluh darah dan sel saraf. Epidermis tersusun atas empat lapis sel. Dari bagian dalam ke bagian luar, pertama adalah stratum germinativum berfungsi membentuk lapisan di sebelah atasnya. Kedua, yaitu di sebelah luar lapisan germinativum terdapat stratum granulosum yang berisi sedikit keratin yang menyebabkan kulit menjadi keras dan kering. Selain itu sel-sel dari lapisan granulosum umumnya menghasilkan pigmen hitam (melanin). Kandungan melanin menentukan derajat warna kulit, kehitaman, atau kecoklatan.
•Fungsi kulit :
1. Monoreseptor, yang berkaitan dengan indera peraba, tekanan gerakan, kinestesi.
2. Thermoreseptor, yang berkaitan dengan penginderaan yang mendeteksi panas dan dingin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar